Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

HARI PAHLAWAN MEMONTUM KEBANGKITAN SANTRI oleh; Aris Adi Leksono*

Oleh Admin 03-11-2015 12:38:15

HARI PAHLAWAN MEMONTUM KEBANGKITAN SANTRI

Oleh : Aris Adi Leksono *

Tanggal 10 November merupakan momen yang sangat bersejarah bagi bangsa ini. Setiap tahun bangsa Indonesia mengenangnya dengan sebutan hari pahlawan, dan sebagai prasastinya, dibangun tugu pahlawan di jantung Kota Surabaya Jawa Timur. Pada tahun 2015 ini momunten hari pahlawan berjalan sangat istemewa, karena didahului dengan penetapan hari santri pada tanggal 22 Oktober 2015. Hari santri merupakan merupakan menanda sejarah kebangkitan pesantren, santri, rakyat, dan segenap bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan sekutu. Hari itu, membuktikan bahwa peran kebangsaan sangat penting, bahkan tokoh pesantren Indonesia, K.H. Hasyim Asy’ari memfatwakan bahwa jihad membela Negara adalah fardlu a’in.

Hari pahlawan dimaksudkan untuk mengenang perjuangan para pahlawan yang berjuangan untuk kemerdekaan NKRI, berjuang dengan jiwa raganya, dengan menumpahkan darahnya demi kejayaan bumi pertiwi tercinta. Harapan demi harapan muncul seiring dengan perjuangan yang dilakukan, salah satu diantaranya adalah ingin bahwa keturunannya lebih baik daripada dirinya saat itu, di masa penjajahan. Dengan berbekal; makanan yang seadanya dan pakaian yang dimilikinya walau dirasa kurang layak untuk ukuran manusia normal pada zaman sekarang, mereka tetap yakin di setiap kesulitan yang mereka hadapi, ada masa kemudahan yang menjemput didepan mereka. Masa depan yang di nantikan itu adalah kemerdekaan dari seluruh aspek kehidupan. Kesejahteraan untuk generasi penerus cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia.

Semangat ingin merasakan kemerdekaan, keinginan keras untuk menjaga keutuhan tanah air, serta dengan harapan kelak masa depan bangsa ini akan semakin cerah, maju, makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran. Hal itulah yang menumbuhkan rasa “nasionalisme” yang mendarah daging, sehingga sebesar apapun kekuatan musuh, secanggih bagaimanapun persenjataan sekutu, tidak membuat para pahlawan masa itu mundur sejengkal pun.

Bagi Nahdlatul Ulama, ormas Islam yang memiliki warga terbesar di Indonesia, tanggal 10 November adalah hari yang bermakna untuk meneriakkan Jihad mempertahankan tanah air (wathon). Sejarah mencatat bahwa NU pada masa itu mengeluarkan fatwa resolusi jihad, yang mewajibkan warganya untuk berperang membela Negara. Maka menurut Bondan Gunawan (disampaikan dalam diskusi tentang nasionalime), tanggal 10 November sebenarnya hari bersejarah bagi kalangan nahdliyin. Begitupula bagi kalangan pesantren, yang mengerahkan seluruh jiwa Negara untuk berjuang melawan penjajah.

Ironisnya semua pengorbanan itu seakan sia-sia, jika melihat kondisi bangsa  di masa sekarang, perjuangan dan harapan para pahlawan pendahulu seakan terlupakan begitu saja. Tumpahan darah mereka seakan sia-sia, ketika melihat gencarnya ancaman dis-integrasi bangsa atas nama agama, ras, suku, adat, dan lainnya. Pengorbanan nyawa mereka seakan tiada guna, jika memperhatikan prilaku para “elit nagara” (legislative, eksekutif, yudikatif, dan birokrasi) yang se-enaknya sendiri,  memperhatikan lagi nasib kesejahteraan rakyatnya, atas nama demokrasi para elit politik bangsa ini mengatur kemakmuran untuk diri dan golongannya sendiri, tanpa memperhatikan rakyatnya yang kelaparan karena menganggur.

Melihat kondisi tersebut, jika hari ini hidup kembali, para pahlawanku  “pasti menangis” melihat dis-integrasi bangsa, baik secara nyata (keutuhan geografis, pertahanan, dll) atau tidak nyata (interfensi kebijakan, politif non bebas aktif, dll), menyaksikan rakyat yang mati karena kelaparan, kurang gizi, kesehatan yang tidak terjamin, serta penganguran karena kebijakan yang tidak berpihak. Ibarat kata “ayam mati dalam lumbung padi”, kurang apa bangsa ini “tongkat kayu bisa jadi tanaman (koes plus)”, SDA yang melimpah ruah malah dijual ke pihak asing, dari dulu (6 presiden) hanya berkutik pada masalah keterbatasan SDM dan tekhnologi saja, tidak beranjak pada perebutan mesin produksi.

Maka sudah saatnya “jangan biarkan pahlawanku menagis”, dengan semangat menghayati pesan moral hari pahlawan, sebagai gerasi penerus bangsa, khususnya para santri pewaris hari pahlawan, harus membangun kesadaran kolektif dengan sejanak melepaskan sahwat kekuasaan semata, saatnya beranjak dengan tindakan nyata, bagaimana kita mengatasi problem-problem kerakyatan yang mendasar, bagaimana menciptakan bangsa yang terbebas (merdeka) dari jajahan neoliberalisme, tercipta sistem pertahanan Negara yang tangguh, sehingga lahir pemimpin visioner berbasis kerakyatan serta tetap menjaga kearifan budaya lokal.

Jika hari ini berkembang wacana “saatnya kaum muda memimpin”. Wacana tersebut tidak ada gunanya, jika yang terjadi adalah pemimpin muda berbaju lama dan bermental lama, atau pemimpin muda yang tidak memiliki visi kemandirian dalam memajukan bangsa, sehingga mudah “ditunggangi” para pemain lama dan agen-agen asing.  

Maka  yang dapat menghentikan “air mata” pahlawan kita, sebenarnya tidak hanya wacana itu, tetapi pemimpin yang bisa menerjemahkan amanat UUD ’45 secara eksplisit dengan langkah kongrit, “melindungi segenap rakyat dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian dan keadilan sosial”.

* Ditulis oleh; Aris Adi Leksono, S.Pd.I (Wakil Kepala MTsN 34 Jakarta/Ketua PERGUNU DKI Jakarta)