Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Kemenag Terima Promoting Indonesian Islamic Higher Education

Oleh Admin 03-11-2015 12:25:38

Jakarta (Pinmas) —- Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama hari ini, Senin (02/11) menerima perwakilan Parlemen Eropa.  Mereka terdiri dari Laurence Vandewalle, Radoslaw Fiedler Arkady, Ana Maria Pissara Ribeiro Nogueira, Joanna Jarecka Gomez,  Many Yem, beserta Akademisi dari Adam University Polandia, Radoslaw Fiedler Arkady.

Mereka hadir di Indonesia untuk memenuhi undangan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Ditjen Pendidikan Islam dalam rangka Promoting Indonesian Islamic Higher Education  yang  akan berlangsung dari 31 Oktober – 14 November 2015. Selama di Indonesia, kelima perwakilan ini akan melakukan serangkaian pertemuan dengan pengelola pendidikan tinggi Islam di Indonesia.

Dalam kesempatan audiensi di Kantor Kementerian Agama, perwakilan The European Parliament, Ueropean Comission, EU Think Thanks, NGO Network dan Academian itu mendengarkan penjelasan dari mantan Rektor Universtias Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Asyumardi Azra tentang Islam Indonesia.

Azyumardi yang juga Guru Besar UIN  Jakarta ini menjelaskan, bahwa Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, namun bukan negara Islam. “Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Dari 240 juta penduduknya, 88,2 % beragama Islam. Meski demikian, Indonesia bukan negara Islam. Indonesia juga bukan negara sekuler. Indonesia mempunyai 6 agama resmi; Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan Konghuchu,” terangnya.

Azyumardi menambahkan bahwa Islam di Indonesia berbeda dengan yang berada di Afganistan dan Negara-Negara Timur Tengah. Mayoritas Penduduk Islam Indonesia berpaham Islam yang moderat,  damai, inklusif, menghargai perbedaan dan tidak ekstrem seperti di Afganistan ataupun ISIS di Syuriah. “Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat plural. Kami disatukan oleh Pancasila yang merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai asli Bangsa kami,” imbuhnya.

Ikut hadir dalam pertemuan tersebut, keluarga besar Direktorat Pendidikan Tinggi-Ditjen Pendis. Azyumardi juga menerangkan  tentang Pancasila, Islam Wasathiah, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Pondok Pesantren, Bhinneka Tunggal Ika dan juga keadaan Indonesia yang multikultural.

“Saya ini berasal dari Sumatera Barat. Bahasa Ibu saya adalah Bahasa Minang. Namun, Istri saya berbahasa Sunda. Dua bahasa yang berbeda. Jadi, Indonesia mempunyai ribuan bahasa yang berbeda. Kami disatukan oleh Bahasa Indonesia,” tambah Azyumardi. (gpenk/mkd/mkd)