Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Indonesia Laboratorium Kerukunan Umat Beragama

Oleh Admin 26-10-2015 13:05:36

Jakarta (Pinmas) —- Indonesia sesungguhnya adalah laboratorium kerukunan umat beragama dalam artian yang sebenarnya. Demikian penegasan Sekjen Kemenag  Nur Syam dalam sebuah kesempatan sehubungan dengan perayaan tahun baru Islam 1437H, Jakarta, Jumat (16/10) lalu.

Menurutnya, perayaan hari besar keagamaan, tahun baru, dan tradisi-tradisi lokal di Indonesia dilakukan hampir tanpa ada konflik. Nur Syam mencontohkan, perayaan tahun baru, baik Masehi maupun Hijriyah, sarat dengan nuansa  kedamaian  dan keselamatan.

“Makna hakiki kebangkitan umat Islam pada 1 Muharram yaitu umat Islam mengedepankan Islam sebagaimana yang diinginkan Nabi Muhammad saw, yaitu Islam yang damai, sejahtera, berkemajuan, dan memberikan berkah bagi uma manusia,” ujar Nur Syam.

Terkait itu, di tengah nuansa menyambut tahun baru Islam, Nur Syam menyoroti realitas saat ini di mana Negara-Negara Islam di Timur Tengah masih tercerai-berai. Nur Syam mengaku proihatin bahwa mereka masih saling menyerang satu dengan lainnya dengan dalih kebenaran masing-masing, dan  itu yang menjadi salah satu problem  umat Islam ke depan.

“Rasanya, apa yang terjadi di beberapa negara di belahan dunia Islam itu  menyedihkan. Ego-faksional di antara mereka luar biasa tingginya, sehingga  ingin saling menguasai. Padahal  mereka menggunakan bahasa yang nyaris sama, yaitu bahasa Arab. Akan tetapi  konflik di antara mereka juga sangat tinggi,” tuturnya.

Berangkat dari realitas ini, Nur Syam melihat  Indonesia sebagai bangsa dengan mayoritas penduduk umat Islam yang memiliki keunikan. Menurutnya, meski terdiri dari 700-an suku bangsa dengan bahasa dan tradisi yang banyak, kira-kira 500-an bahasa, namun demikian Indonesia  bisa bersatu dalam satu bangsa dan negara. “Betapa indahnya Indonesia ini, jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Masih ada sejumlah masyarakat yang sedang  merumuskan identitas kebangsaan dan kenegaraannya di tengah kemodernan dan kemajuan ini, sementara Indonesia sudah selesai,” katanya.

Nur Syam tidak menutup mata dengan adanya perbedaan di Indonesia. Bahkan, lanjutnya, tentu ada perbedaan dalam menentukan tahun baru Hijriyah 1437H ini. Ada yang menggunakan hitungan tahun Saka, ada yang menggunakan hitungan tahun Aboge, dan sebagainya. Namun demikian, di antara mereka yang berbeda pendapat tersebut tidak saling mencaci dan merendahkan.  “Mereka semua memahami bahwa perbedaan adalah bagian dari sunnatullah yang harus dipahami secara mendalam,” terangnya. (inan/mkd/mkd)