Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

IRONI PROGRAM TELEVISI ; TONTONAN TANPA TUNTUNAN (Oleh : PUSPITA DEWI, S.Pd*)

Oleh Admin 22-10-2015 18:43:28

Bagi mereka yang lahir dan besar di era 80-an tentu kenal dengan sosok boneka si Unyil dan kawan kawannyayang selalu menyapa penggemarnya setiap Minggu pagi melalui layar kaca. Sebuah tayangan yang bukan hanya menghibur dengan jalan ceritanya yang penuh kisah menarik serta lucu namun juga sarat akan pesan moral dan local wisdom atau kebijaksanaan local seperti gotong royong, persahabatan atau kerukunan umat beragama. . Sebuah program yang tak hanya dicintai oleh anak anak tetapi juga oleh seluruh lapisan usia dan kalangan masyarakat. Sebuah acara yang begitu melegenda. Minggu pagi menjadi sebuah ritual kumpulnya seluruh anggota keluarga , duduk bersama di depan televisi menikmati kisah boneka si Unyil . Moment yang begitu berharga dan sakral dimana keakraban seluruh anggota keluarga terjalin . Anak anak gembira dan para orang tuapun tak merasa was was sedikitpun karena mereka tahu program tersebut merupakan sebuah tontonan yang bisa menjadi tuntunan dalam kehidupan anak anak mereka kelak. Program si Unyil tak sendiri, ada banyak program televisi lain yang patut diancungi jempol karena selain menghibur juga edukatif. Sebut saja Keluarga Cemara, Rumah Masa Depan, Losmen dan tak lupa Jendela Rumah Kita . Atau program dari luar negeri yang juga digandrungi pemirsa semisal Little House on the Prairie dengan ikonnya Laura Ingals atau kisah kecerdikan seekor anjing bernama Lassie.Mereka adalah magnet yang bisa membuat kita tahan duduk berjam jam dan kemudian di akhir tayangan membuat kita merenungi pesan moral yang terkandung di dalamnya.Satu hal yang membuat kegiatan menonton tv menjadi begitu menyenangkan, selain karena dilakukan bersama seluruh keluarga, ialah karena kita dapat menyaksikan acara acara tadi secara utuh tanpa diselingi iklan ataupun pesan sponsor yang sering berseliweran di tengah acara yang terkadang mengganggu dan membuat jengkel. Hal itu dikarenakan TVRI sebagai satu satunya stasiun televisi kala itu, hingga saat ini, memang dilarang menerima iklan atau sponsor untuk menjaga ke-tidak berpihakan-nya dari pihak manapun. TVRI harus steril dari kepentingan kepentingan kelompok atau golongan tertentu .Tak heran apabila acara yang dihasilkan adalah acara yang penuh idealisme , jauh dari jajahan kapitalisme atau pelaku industri . Meskipun kondisi ini juga menyebabkan TVRI tak terlalu leluasa membuat program yang lebih variatif karena keterbatasan dana. Hal itu pulalah mungkin yang membuat kita lambat laun mulai meninggalkan stasiun televisi tertua itu.Kita mulai berpaling ke lain hati saat stasiun televisi swasta pertama yaitu RCTI mulai beroperasi di dunia pertelevisian. Sebagai stasiun televisi yang dikelola swasta, RCTI bebas menerima iklan dan menayangkannya. Tentu hal ini membuat RCTI menjadi lebih punya banyak pilihan akan program program seperti apa yang akan dibuat . Dan pastinya membuat RCTI, serta stasiun televisi swasta lainnya, akan mengedepankan prinsip eknomi mendasar yaitu mengeruk keuntungan sebesar besarnya. Dan meletakkan aspek lain seperti pendidikan di nomor urut belakang dalam daftar prioritasnya.Sebuah konsekuensi logis yang tak bisa dielakkan . Namun ironisnya terkadang prinsip ekonomi tadi seolah-olah membuat stasiun televisi dan rumah produksi seperti benar-benar kehilangan idealisme mereka. Uang menjadi faktor penggerak utama, laba menjadi dewa. Apapun dilakukan asalkan bisa mendatangkan pundi pundi rupiah sebanyak banyaknya termasuk menggadaikan logika dan masa depan generasi penerus bangsa. Money is everything.Stasiun televisi swasta seakan tak lagi memiliki visi dan misi agar menjadi mitra pendidikan di Indonesia untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mencoba menampilkan program program yang berkualitas dan mendidik. Alih alih ikut berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, mereka seakan larut dalam usaha pembodohan bangsa dengan menampilkan tayangan tayangan yang absurd dan tak masuk akal sehat kita seperti sinetron sinetron remaja yang merajai jam tayang utama. Sinetron yang hanya berisi wajah wajah tampan dan cantik berlalu lalang dengan dialog dangkal yang tak memiliki nilai apapun mengiringi jalan cerita yang membahas perseteruan, persaingan tak sehat dan kisah cinta yang rumit dikalangan remaja.Bagaikan ayam dan telur yang tak diketahui mana yang tercipta lebih dulu, sinetron dan kehidupan remajapun tak lagi diketahui siapa meniru siapa. Apakah sinetron memotret kehidupan remaja yang memang begitu ajaibnya atau remajalah yang mengimitasi kehidupan di sinetron. Gaya bicara dan gaya berpakaian di jiplak taanpa memikirkan pantas atau tidaknya. Dunia nyata dan layar kaca menjadi sama gilanya.Sinetron hanya satu dari sekian program �sampah� yang wara wiri dikotak ajaib bernama televisi itu. Acara variety show atau talk show dengan host yang itu itu saja hanyalah berisi tanya jawab ringan seputar kehidupan sang artis yang sebetulnya tak penting dan tak perlu dijadikan sebuah tayangan yang menghabiskan jutaan untuk memproduksinya. Akan jauh lebih baikbila uang itu disumbangkan untuk membangun jembatan rusak di daerah daerah atau membeli masker bagi warga yang terpapar bencana asap. Atau program tak jelas yang berkedok acara musik yang hanya menampilkan kekonyolan kekonyolan tingkah polah pengisi acaranya dengan pembawa acara yang masih itu itu saja, serta penonton bayaran yang dibayar untuk berteriak lalala yeyeye, sesungguhnya hanyalah kegiatan memperkaya para pengusaha rumah produksi dan artis pendukung acara itu. Dan kita secara tak sadar ikut berpartisipasi didalamnya karena ikut menonton acara tersebut.Masih banyak lagi acara acara lain yang dibuat betul betul hanya untuk sekedar tontonan tanpa bisa menjadi tuntunan. Lalu dimana fungsi Komisi Penyiaran Indonesia sebagai pihak decision maker atas layak atau tidaknya sebuah acara ? KPI memang memiliki peranan penting dalam hal ini. Langkah pertama adalah dengan memberi label usia yang pantas menyaksikan sebuah tayangan .� Semua umur� artinya acara tersebut aman duntuk siapa saja. BO bermakna boleh dinikmati oleh siapapun namun tetap harus didampingi oleh orang tua atau orang dewasa lainnya. Dan terakhir adalah label dewasa yang tentu saja hanya boleh dinikmati oleh mereka yang sudah dewasa.Meskipun pelabelan ini hanya sedikit fungsinya karena kebanyakan pemirsa tak mengindahkan peringatan ini. Fungsi lain dari KPI adalah untuk mencekal acara yang dianggap tidak pantas atau menyinggung pihak pihak tertentu. Cukup banyak acara yang pernah dicekal oleh KPI dan tak lagi bisa tayang. Namun sayangnya, production house tinggal mengganti nama program dan kembali tayang dengan konsep yang sama dengan yang sebelumnya. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mennghentikan atau setidaknya mengurangi pembodohan massal ini ?Disinilah orang tua dan guru memainkan peran yang sangat penting . Orang tua dan guru harus bisa menjadi badan sensor independen yang berdiri di garda terdepan yang membantu putra putrinya agar cerdas dalam memilih tayangan dengan memberikan pengarahan dan bimbingan sebelum, selama dan sesudah tayangan. Karena sangatlah mustahil untuk bisa terus mendampingi putra putri kita selama acara berlangsung, maka kecerdasan memilih tayangan mutlak diperlukan. Dan putra putri kita hanya bisa mendapatkannya lewat Orang tua dan guru.Pembatasan jam menonton juga perlu diberikan oleh para orang tua . Primadona jam tayang atau disebut prime time adalah jam7-9 malam saat dimana putra putri kita seharusnya sedang belajar . Jauhkan televisi dari jangkauan mereka karena bisa sangat mengganggu konsentrasi mereka. Tak kalah pentingnya adalah dengan menjadi panutan bagi putra putri kita. Berilah contoh bagi merka bahwa kita tak hanya sekedar �lip service� atau �ngomong doang � dengan juga menunjukkan bahwa kitapun sudah terlebih dahulu cerdas dalam menentukan program tv apa yang kita pilih. Let�s walk the talk.Andaikan para orang tua dan guru bersatu padu dalam hal ini, diharapkan akan berimbas pada turunnya rating program tersebut dan pada akhirnya kehilangan peminat dan puncaknya adalah dihentikannya program tersebut. Dan sebaliknya , marilah kita mengajak putra putri kita untuk menyukai acara acara yang sarat akan nilai edukasi, seperti Olimpiade Indonesia Cerdas, sehingga diharapkan semakin banyaknya yang melakukan aksi ini maka kita bisa merubah wajah pertelevisian dan dan akan semakin banyak lahir acara televisi yang bisa menjadi tontonan sekaligus tuntunan.