Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Ketika Putus Asa, Tolonglah Orang Lain

Oleh Admin 16-10-2015 17:45:09

Kita berjuang bukan dengan kepandaian tetapi dengan kegigihan” -(George H. Mathason)

Kita semua ingin sekali jadi orang sukses. Tapi sayang sukses tidak pernah datang secara mudah begitu saja. Bukan sukses namanya kalau segala sesuatu tampak lancar-lancar saja tanpa pernah mengalami hambatan, rintangan dan kegagalan.

Sukses memang harus kita perjuangkan. Ada “harga” yang harus kita bayar. Kadang bahkan sangat mahal. Akan tetapi bagi siapapun juga yang mau memperjuangkannya, berani membayar harganya, suatu saat ia pasti sukses. Siapapun ia!

Salah satu tantangan yang sangat pahit yang harus kita lalui, lebih-lebih ketika terpuruk dalam kegagalan-demi-kegagalan adalah rasa putus asa. Perasaan ini sering sangat menentukan sekali pada keputusan untuk melangkah selanjutnya. Jalan terus, atau ya sudah, stop saja. Quit!

Memang betul, kita semua tidak akan pernah bisa menghindar dari kegagalan. Tetapi ingat, menghindar dari rasa putus asa adalah sangat-sangat mungkin. Soal pilihan saja. Soal sikap dan attitude saja.

Kegagalan merupakan sesuatu dari dari LUAR DIRI kita, yakni sebuah kenyataan bahwa kita tidak berhasil mencapai target yang telah kita tentukan. Lain halnya dengan putus asa. Ini merupakan sesuatu yang berasal dari DALAM DIRI kita, sikap mental kita. Oleh sebab itu seharusnya ia bisa kita kendalikan.

Di dalam diri kita, benih-benih rasa putus asa itu memang ada. Masalahnya adalah apa yang harus kita perbuat jika rasa putus asa itu melanda kita. Apakah perasaan tersebut harus terus kita pelihara, agar berkembang dan akhirnya mematikan semangat kita, atau haruskah kita basmi agar hal tersebut tidak sempat berkembang lalu kemudian mematahkan semangat kita?

Salah satu penyebab utama timbulnya rasa putus asa adalah karena terlalu memikirkan diri sendiri. Jika kita keterlaluan memikirkan diri sendiri, dan menilai segala sesuatu itu berdasarkan untung rugi, maka secara tak sadar orang itu sedang memupuk benih-benih rasa putus asa.

Banyak penasehat ulung yang menganjurkan pada orang-orang yang sedang putus asa atau mengalami depresi untuk meluaskan pergaulan (terutama dengan orang-orang yang nasibnya lebih buruk dari mereka). Lalu mereka disarankan untuk menolong orang-orang itu.

Dengan cara ini, orang-orang yang sedang putus asa ini sedikit demi sedikit mulai memikirkan orang lain, dan tidak lagi memikirkan diri sendiri saja. Rasa putus asanya akan berkurang bersamaan dengan berkurangnya kebiasaan untuk memikirkan diri sendiri. Jika anda jenis orang yang mudah putus asa, cobalah luangkan waktu anda untuk menolong orang lain. Hal itu akan banyak membantu anda diri, dan juga orang lain tentunya.

Hal lain yang juga membuat kita cepat putus asa, kata pakar kepemimpinan John C. Maxwell adalah kehilangan sebuah peluang. Wajar saja, karena dengan kehilangan peluang kita juga kehilangan harapan. Dampak hilangnya harapan tentu membuat kita putus asa.

Sayangnya, “peluang itu barulah bisa kelihatan lebih jelas justru pada saat ia sudah menghilang dari genggaman kita”

Dengan kata lain, sementara peluang yang sudah hilang amat mudah terlihat, peluang yang belum datang justru sangat sulit diantisipasi. Bayangkan saja, anda bisa dengan mudah melihat peluang yang sudah hilang, sedangkan peluang yang akan datang tidak bisa kita lihat. Gimana nggak putus asa!

Tetapi jangan berkecil hati dahulu, karena peluang-peluang baru akan selalu bermunculan, walau sekarang ini mungkin belum terlihat oleh anda.

Hal-hal yang dapat membantu kita mengatasi rasa putus asa:

  1. Terus memupuk rasa optimis.
    Jika anda selalu optimis bahwa peluang baru akan muncul, anda tidak perlu kecewa berkepanjangan karena hilangnya sebuah peluang
  2. Dengan belajar mengantisipasi datangnya sebuah peluang.
    Kita sudah dapat memprediksi kehadirannya. Berkonsultasilah dengan orang-orang yang sudah berhasil melakukannya. Tanyakan kepada mereka bagaimana mereka bisa mengantisipasi peluang itu. Baca juga buku-buku mengenai orang-orang besar agar dapat belajar dari pengalaman keberhasilan mereka. Akhirnya selalu tanamkan sikap haus mencari peluang. Tanamkan pula sikap untuk mau riset dan mencari informasi selengkapnya terhadap peluang-peluang yang dating. Jangan gunakan dulu “asumsi pribadi” anda dalam menilai setiap peluang yang dating. Apalagi hanya mendengar “kata orang”. Ambil keputusan selalu berdasarkan informasi, berdasarkan fakta, berdasarkan data.

Keberhasilan tidak datang begitu saja kepada orang-orang yang berhasil. Awalnya harus selalu dia lalui dengan kerja keras terus menerus. Kalau kita paham akan hukum ini, kita tidak akan cepat merasa putus asa kalau ternyata setelah dijalani masih belum berhasil jua.

Sebuah riset yang diprakarsai oleh National Retail Dry Goods Association di Amerika mengungkapkan bahwa sebagian besar kegagalan yang dialami para wiraniaga disebabkan karena mereka sudah putus asa setelah gagal pada waktu pertama kali mencoba. Berikut statistiknya:

48 % dari jumlah keseluruhan wiraniaga hanya melakukan 1 kali kontak, lalu memutuskan hubungan;

25 % dari jumlah keseluruhan wiraniaga hanya melakukan 2 kali kontak, lalu memutuskan hubungan;

15 % dari jumlah keseluruhan wiraniaga hanya melakukan 3 kali kontak, lalu memutuskan hubungan;

12 % dari jumlah keseluruhan wiraniaga hanya melakukan 3 kali kontak, lalu melanjutkan hubungan (wiraniaga yang masuk kelompok ini memasukkan lebih 80% jumlah total penjualan).

Anda termasuk golongan mana?

*** by : Nilna Iqbal


sumber : pustakanilna.com