Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI dan Kepala Kanwil Kementerian Agama Propinsi Bali Menghadiri Upacara Bhakti Pepranian di Pura Ulun Danu Batur, Kintamani, Kabupaten Bangli

Oleh Admin 20-04-2015 16:11:12

(Ura Hindu) Bertepatan pada hari yang baik dengan suba dewasa Sukra Paing Wuku Ugu pinanggal 3 April 2015 pada Purnama Kedasa menurut perhitungan Kalender Bali merupakan hari yang baik melaksanakan Dewa Yajnya, bersamaan dengan hari tersebut merupakan puncak karya Puja Wali Ngusaba Kedasa di Pura Ulun Danu Batur, dan juga bersamaan dengan Puncak Karya Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih. Merupakan agenda rutin Umat Hindu setiap tahun saat Purnamaning Kasa membludak nangkil guna melaksanakan persembahyangan baik bersama keluarga, kelompok banjar, dan lembaga pemerintah yang karyawan/karyawatinya beragama Hindu, dan ini secara sengaja meluangkan waktunya untuk dapat tangkil ke pura yang besar yang menjadi kebanggaan umat Hindu di santero Bali maupun umat Hindu dari luar Bali.Terkait dengan kehadiran Bapak Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI dan Kepala Kantor Kementerian Agama Propinsi Bali dengan seluruh jajarannya memenuhi surat Undangan Panitia Karya Pujawali Ngusaba Kadasa dengan rangkaian acaranya Muspayang Bhakti Penganyaran, Kamis 16 April 2015. Dalam kesempatan itu Bapak Dirjen Bimas Hindu Bapak Prof. Drs I Ketut Widnya, M.Fil.H bersama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali, Bapak A.A. Gd. Muliawan, S.Ag, M.Si duduk bersama sebelum prosesi Upacara Pepranian dimulai, dan melakukan bincang-bincang terkait pembinaan Umat Hindu di Bali dalam mengimplementasikan dan mengaktualisasikan Ajaran Veda dan kitab-kitab suci lainnya seperti lontar-lontar, dan ajaran yang terkandung didalamnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kesempatan itu juga beliau berdua B Dirjen Bimas Hindu dan Kankanwil (Red) sangat mengapresiasi kinerja panitia dalam memanage dan mengatur keuangan yang dikelola baik berupa punia yang masuk dan dikelola panitia dan demikian pengeluarannya disampaikan secara transparan oleh Bendahara Panitia, hal ini sampaikan dalam laporan bendahara dimana panitia mendapatkan punia berupa uang kurang lebih dua Miliar rupiah dari kalangan umat Hindu, dan ini dapat dikelola dengan baik dan professional. Dan lebih lanjut bendahara menyampaikan dalam laporannya, untuk piodalan penghabisannya kurang lebihnya delapan ratusan juta, sebagaian ada digunakan untuk perbaikan beberapa pelinggih yang dalam kondisi rusak, jadi dalam pengelolaan keuangan dari punia masih ada saldo yang tersisa sekitar delapan ratusan juta rupiah. Hal ini juga diapresiasi oleh Wakil Gubernur Bali yang hadir dengan seluruh jajaran SKPD Propinsi Bali dan Kabupaten, dimana dalam Sembrama Wecana/Sambutannya pengelolaan dana yang sumbernya berupa punia pManajemennya seperti ini patut dijadikan contoh oleh Krama Desa yang lainnya dalam hal pengelolaan keuangan dengan pelaporan dan penggunaanya disampaikan secara secara transparan. Dalam prosesi Bakti Pepraniaan ini dapat dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur/angayubagia kita sebagai umat manusia atas segala karunia Anugrah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, segala sesuatu yang diberikan atau yang dimiliki sepatutnya kita persembahkan dulu sebagai rasa wujud bhakti kita kepada sang pencipta, dan setelah itu patut kita lungsur/nikmati  dalam bentuk prasadam, dalam prosesi ini wujud kebersamaan begitu kelihatan sangat kental terasa tidak ada perbedaan duduk bersama dipelataran pura penuh denga keyakinan dibawah terik sinar matahari umat tik bergeming dan suara tetabuhan Gong Gede sayup-sayup mengiringi Upacara bhakti peparanian yang dilaksanakan, setelah bhakti pepranian yang puput oleh pemangku Wakil Gubernur duduk berdampingan dengan Dirjen Bimas Hindu Melaksanakan persembahyangan bersama dipimpin oleh Pemangku, selesai prosesi persembahyangan dilaksanakan acara ngelamuhin bersama-sama menikmati prasadham, bersama keluarga dan umat Hindu yang lainnya, kita maknai rangkaian acara ini penuh dengan rasa kesadaran sebagai saudara sebagai mana tersirat dalam ajaran Hindu Wasudewa Kuthum Bhakam, menjunjung tinggi rasa persaudaraan, dan bagaimana kita sadari sebagai umat manusia dapat memerangi musuh kita, terutama musuh yang ada dalam diri kita, dimana simbol ini dengan menampilkan tari sakral yakni tari baris perang-perangan, tari baris ini menujukan sebuah sifat ksatria dengan selalu membela kebenaran, dan selalu membentengi diri dengan ajaran agama dan lebih diaktualisasi dalam kehidupan sehari-hari dengan berpegang teguh pada Dharma yang Agung.Inilah ritual yang dilaksanakan sarat akan makna mengupas arti kehidupan dengan sekala niskala tidak henti-hentinya berupaya dan berusaha meraih kehidupan yang santi, maju, aman damai dan sejahtera dengan tidak henti-hentinya berdoa dan beryana tentunya,  yajna yang satwika. (MD)