Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Merajut Kesadaran dalam Keetisan Sosial

Oleh Admin 16-04-2015 08:04:12

Oleh Teguh Pamungkas

PKB KABUPATEN TANAH LAUT

PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Tanpa memandang keterbatasan, selayaknya kita memeroleh suatu persamaan. Tak hanya di lingkungan keluarga, persamaan juga semestinya dirasakan pula pada kehidupan sosial. Namun di dalam keluarga sendiri terkadang belum sepenuhnya memahami keberadaan anak berkebutuhan khusus. Sengaja orangtua mengkerdilkan anaknya dari masyarakat, karena merasa malu. Atau sebaliknya, kondisi sosial masyarakatnya yang mengucilkan kehadiran anak yang memiliki keterbatasan. Stigma yang salah membuat mereka terpuruk, seolah-olah kekurangannya menjadi hambatan untuk bisa diterima sebagai bagian dari masyarakat.

 

Mereka kurang merasakan keindahan dalam menjalani hidup penuh perhatian dan kebebasan. Belum bisa hidup bebas bersosial untuk bergaul dengan lingkungan. Sedangkan ketika mereka berada di antara sesamanya mengalami kesendirian, karena teman-temannya menganggap berbeda dengan dirinya. Pemahaman dan kesadaran yang minim, menganggap kehadiran anak berkebutuhan khusus tidak bisa melakukan apa-apa. Keadaan ini membuatnya merenung, menyalahkan diri sendiri dan hidupnya merasa tertekan.

 

Kesadaran mungkin diawali dengan pemahaman tentang siapa anak berkebutuhan khusus. Berangkat dari sini bisa mengantarkan pada posisi yang semestinya kita lakukan. Sehingga yang ada bukan lagi menghakimi dengan anggapan-anggapan yang negatif lagi. Anak berkebutuhan khusus juga seorang manusia. Kita semua memahami, bahwa semua orang ingin bereksistensi dalam ekspresi untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki. Yang berdampingan dengan pemenuhan hak asasi, kepentingan, aktivitas, olah pikir, dan implementasi perilaku. Begitu juga dengan anak berkebutuhan khusus yang ingin diperlakukan sama. Tak ada diskriminasi.

 

Untuk mengenyahkan kekeliruan tentunya ada beberapa hal harus kita perhatikan. Yang pertama, mendapatkan keselamatan. Anak adalah karunia Tuhan yang diberikan kepada hambanya. Suatu “aset” yang semestinya dijaga dan dirawat sebaik mungkin. Setiap orangtua pasti mempunyai misi tertinggi dalam mendidik anak. Yakni menyelamatkan anak-anaknya dalam hidup – dunia dan akhirat – tanpa kecuali.

 

Sebagai langkah menuju keselamatan tentu diperlukan ilmu. Adanya ilmu mengantarkan anak memahami etika berpikir, berperilaku dan kendali perbuatan. Di sinilah pentingnya mendidik anak dengan ilmu. Penanggung jawab mendidik tak hanya orangtua, tetapi masyarakat dan pemerintah turut terlibat. Dorong mereka agar bersemangat menuntut ilmu serta mencintai ilmu. Karena dari ilmu derajat sosok manusia semakin tinggi.

 

Kehadiran ilmu bukan hanya untuk segelintir  anak, namun mereka yang berkebutuhan khusus pun berhak memeroleh pula. Suatu program yang visioner, dapat dirasakan  langsung manfaatnya, di mana Pemprov Kalsel menyelenggarakan pendidikan inklusif. Membuat wadah menuntut ilmu atau layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Sekolah-sekolah umum membuka pintu bagi anak berkebutuhan khusus.

 

Kedua, tumbuh dan berkembang. Tumbuh adalah tahap perubahan ukuran dan bentuk tubuh atau anggota tubuh. Sementara itu, berkembang merupakan rangkaian perubahan dari satu tahap perkembangan ke tahap perkembangan berikutnya. Yang di dalamnya meliputi emosi, sosial, moral/etika dan kecerdasan.

 

Saat anak tumbuh dan berkembang terjadi perubahan fisik, tingkah laku dan perubahan emosional/psikologis. Semuanya beriringan dengan bertambahnya usia anak. Tak terasa anak semakin tumbuh besar. Anak mulai mengenal lingkungan. Saat anak mulai tumbuh dan berkembang dibutuhkan benteng-benteng untuk menghadapi kehidupan. Masa-masa pertumbuhan anak memerlukan bekal. Rasa ingin tahu dan menampakan daya kritis sebagai manusia berpikir yang diikuti dengan norma agama dan sosial.

 

Ketiga, mendapat perlindungan. Kita telah diajarkan untuk menghargai hak seseorang, terlebih kepada saudara/anak yang berkebutuhan khusus. Dengan pengayoman yang layak anak-anak dilindungi. Menumbuhkan rasa aman. Tak melindungi dari ancaman semata, namun perlindungan berlaku secara komprehensif. Perlindungan meliputi dari adanya kekerasan terhadap anak, perdagangan anak (trafficking) hingga mencegah eksploitasi.

 

Keempat, kesempatan bersosial. Sebagai makhluk sosial, selain kita, anak-anak pun hidup dalam masyarakat. Apalagi anak-anak yang kehidupannya senantiasa diiringi dengan bermain dan belajar. Bersosial atau berhubungan dengan sesama dan lingkungannya menjadi bagian yang tak terpisahkan. Perlu kiranya sebuah pemahaman bersama bahwasanya anak berkebutuhan khusus pun ingin diakui sebagai anggota dari masyarakat. Melalui kesempatan bersosial, secara langsung anak telah belajar bersosial sesama teman dan lingkungannya. Di samping itu, anak memiliki lahan untuk mengekspresikan diri, berusaha aktif dalam berbagai kegiatan. Dari perilaku dan bertetangga yang baik lingkungan menjadi ramai dan menambah saudara.

 

Kita hidup tak seorang diri. Bagian terdekat kita keluarga, ada bapak, ibu dan anak. Selanjutnya ada saudara, tetangga, teman dan masyarakat. Dalam tataran kehidupan semua kedudukan manusia sama, merupakan bagian dari masyarakat. Manusia sebagai makhluk sosial. Telah menjadi rumus bahwa posisi manusia tidak dapat hidup sendirian. Otomatis pula menyejajarkan posisi siapa pun tidak ada perbedaan.

 

Anak berkebutuhan khusus juga seorang generasi penerus keluarga dan bangsa. Sama halnya anak-anak lainnya, mereka memiliki cita-cita, semangat belajar dan berkeinginan membaur bersama teman, masyarakat dan lingkungan. Alangkah elok jika kita senantiasa menjunjung tinggi persaudaraan, tanpa membedakan orang untuk dikatakan pantas kita hargai.